Enam puluh kilometer terdengar sepele kalau ditempuh dengan motor. Tinggal tarik gas, putar lagu Hindia, tak terasa sudah sampai. Tapi ketika jarak itu harus dikayuh dengan sepeda, rasanya berubah jadi tantangan yang tidak bisa dianggap enteng.
Malam itu tujuan kami jelas keLabanan, Kecamatan Teluk Bayur. Ajakan itu datang dari Maskur. Anehnya, aku tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan. Bukan karena merasa kuat, tapi karena tempat itu memang sudah lama masuk dalam daftar target gowesku.
Kami berangkat dari Tanjung Redeb hanya berdua. Tanpa rombongan, tanpa riuh komunitas. Penerangan sekadarnya, lampu yang terhubung ke power bank yang entah masih akurat atau enggak angka dayanya.
Sebagai seseorang yang (sok) menyebut diri cyclist minimalist, perlengkapanku sederhana. Jersey dry fit biasa, vest fishing, celana pendek yang bahkan baru kupotong malam itu juga, dan sneakers seadanya.
Berbeda jauh dengan Maskur. Ia mekanik sepeda, mantan atlet pula. Urusan perlengkapan tak perlu diragukan. Dari atas sampai bawah rapi seperti mau ikut lomba. Mulai dari kacamata sampai sepatu cleat-nya.
Baru menanjak pertama ke arah Hutan Kota Tangap, pikiran untuk berhenti sudah muncul. Dan bukan cuma sekali. Hampir di setiap tanjakan, keinginan itu datang lagi. Rasanya cukup jujur untuk diakui.
Tapi berhenti di tengah jalan terasa seperti mengingkari niat sendiri. Bukan soal gengsi, bukan soal orang lain. Hanya soal komitmen yang sudah terlanjur dibuat.
Menanjak pelan dengan napas tersengal, lalu meluncur cepat saat turunan. Dari situ aku belajar satu hal, tubuh selalu punya sendiri untuk memprotes.
Dengkul seperti berisik sendiri. Napas tak lagi teratur. Namun justru dalam kondisi terengah-engah itu, ada rasa yang sulit dijelaskan.
Seperti banyak keputusan lain dalam hidup, perjalanan ini terjadi karena aku terlalu cepat berkata iya. Logika belum selesai berpikir, mulut sudah lebih dulu setuju. Sisanya? semua orang sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Sepanjang jalan Maskur terus bercerita. Topiknya macam-macam. Tentang pentingnya memilah teman. Tentang perempuan yang, menurutnya sering jadi titik lemah pria yang terdengar lebih seperti pengalaman pribadi daripada nasihat umum. Tentang dunia yang sementara, sementara kita sering lupa diri dan berlebihan.
Aku lebih banyak mendengar. Dan memang sepertinya sering seperti itu. Bukan karena selalu sepakat, tapi karena napasku memang hanya cukup untuk mengayuh pedal.
“Party Pace Joy” dengan dengkul dan nafas sepertiku yang selama ini hanya terlatih untuk rute keliling kota, rute seperti ini jelas bukan sesuatu yang biasa.
Keinginan ke sana (Labanan, red) sebenarnya sudah lama ada. Hanya saja selalu tertunda oleh alasan klasik karena tak adanya kawan. Ternyata yang dibutuhkan bukan banyak orang, cukup satu yang mau berangkat bersama.
Perjalanan malam itu kami tutup dengan di warung penyetan kaki lima. Total waktu tempuh sekitar tiga setengah jam, dengan elevasi menyentuh angka seribu meter. Sayangnya, rekaman di Strava hanya tersimpan setengah perjalanan entah salah pencet atau memang sinyal yang tak bersahabat.
Setelah perjanalan itu, muncul pertanyaan baru, berikutnya ke mana? Kali ini aku tidak bingung. Sudah ada sedikit gambaran. Mungkin belum detail, tapi cukup untuk membuatku ingin terus melaju.
Belakangan di media sosial unggahan tentang sepeda sering kali kulakukan. Dan kalau ada komentar, “Sepedaan terus biar apa?”
Aku sudah punya jawabannya. Tak perlu teori kesehatan atau alasan produktif.
Langsung ku jawab, “Biarlah orang berkata apa”.
